Iklan Nuff

17.7.13

Artikel Ramadan : Penjelasan tentang puasa dalam Al-Quran




Penjelasan tentang puasa dalam al-Quran (3)
Ustaz Abu Utsman Kharisman,


Menyempurnakan Bilangan Puasa

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, maksudnya:


“…dan sempurnakanlah bilangannya…” (Surah al-Baqarah : ayat 185)

Allah perintahkan kaum mukminin yang mampu dan tidak berhalangan berpuasa untuk menyempurnakan bilangan hari bulan Ramadhan dengan puasa sebulan penuh. Bilangan hari Ramadhan boleh 29 hari atau 30 hari.

Nabi pernah mengisyaratkan dengan jari-jari tangan beliau bahawa jumlah bilangan hari dalam sebulan adalah 29 atau 30 hari, sebagaimana hadits dari Ibnu Umar:

“Bulan itu begini dan begini (iaitu: kadangkala 29 hari, kadangkala 30 hari).” (H.R al-Bukhari dan Muslim)

Potongan ayat ini merupakan penjelasan agar tidak terjadi dalam pikiran seseorang yang berpuasa bahawa kewajiban puasa Ramadhan cukup terpenuhi dengan berpuasa pada sebahagian hari saja tanpa harus menyempurnakan bilangan hari sebulan penuh (dititip daripada Tafsir as-Sa’di)

Kita menyaksikan keadaan yang menyedihkan. Sebahagian saudara kita ada yang bersemangat puasa pada awal-awal bulan. Namun, masuk pertengahan, tidak sedikit yang meninggalkan puasa. Semoga Allah memberikan hidayah kepada kita semua.

Jumlah hari pada bulan hijriah kadang-kadang 29 hari, kadang-kadang 30 hari, bergantung apakah terlihat hilal masuknya bulan berikutnya atau tidak. Jika terhalang penglihatan oleh awan dan seumpamanya, maka disempurnakan jumlah harinya menjadi 30 hari.

Bertakbir pada akhir puasa sebagai bentuk syukur

Allah Subhaanahu Wa Ta’ala berfirman, maksudnya:

“…dan bertakbirlah (mengagungkan kebesaran) Allah atas petunjuk-Nya kepada kamu dan agar kamu bersyukur." (Surah al-Baqarah : ayat 185)


Allah perintahkan untuk bersyukur atas nikmat-Nya yang telah memberikan hidayah kepada seseorang sehingga dapat menyempurnakan puasa. Salah satu bentuk syukur itu dengan bertakbir sejak dipastikan masuknya Syawal (berdasarkan rukyat hilal) pada malam hari raya hingga menjelang solat Aidil Fitri.

Pada banyak ayat yang lain, Allah perintahkan bagi seseorang untuk banyak berzikir menyebut Allah, jika telah menyelesaikan suatu ibadah tertentu. Contoh, selesai melaksanakan solat, perbanyaklah zikir. Firman Allah yang bermaksud:

“Jika kalian telah menyelesaikan solat, berzikirlah (menyebut) Allah dalam keadaan berdiri, duduk, dan berbaring.” (Surah an-Nisaa’ : ayat 103).


“Kemudian setelah selesai solat (Jumaat), maka bertebaranlah kamu di muka bumi (untuk menjalankan urusan masing-masing) dan carilah apa yang kamu hajati dari limpah kurnia Allah, serta ingatlah akan Allah banyak-banyak (dalam segala keadaan), supaya kamu berjaya (di dunia dan di akhirat).” (Surah al-Jumu’ah : ayat 10)


Demikian juga ketika menyelesaikan haji, Allah perintahkan perbanyak zikir:

“Kemudian apabila kamu telah selesai mengerjakan amalan ibadat Haji kamu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebut dan mengingati Allah (dengan membesarkanNya) sebagaimana kamu dahulu menyebut-nyebut (memuji-muji) datuk nenek kamu, bahkan dengan sebutan yang lebih lagi...” (Surah al-Baqarah : ayat 200)

(Nukilan faidah ayat-ayat di atas diambil dari Tafsir Ibnu Katsir)

Maka takbir, tahlil, tahmid yang dikumandangkan setelah selesainya pelaksanaan puasa Ramadhan adalah sebahagian daripada perintah itu. Sebagai bentuk syukur atas hidayah Allah bagi kita dalam pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan tersebut.

“Dan jika hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku menjawab seruan orang yang berdoa jika berdoa kepada-Ku, maka hendaknya ia memenuhi seruan-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” (Surah al-Baqarah : ayat 186)


Pada ayat ini akan dijelaskan tiga perkara:

i. Kaitan doa dengan puasa.

ii. Dekatanya Allah dengan hamba-Nya.

iii. Allah pasti menjawab doa seorang hamba.

iv. Memenuhi seruan Allah dan beriman kepada-Nya adalah sebab mendapatkan hidayah

v. Berdoa langsung kepada Allah tanpa perantara

PENJELASAN:

Kaitan Doa dengan Puasa

Ayat ini adalah ayat tentang berdoa yang terletak di antara ayat-ayat yang menjelaskan hukum tentang puasa. Ayat 183-185 adalah tentang puasa. Ayat ini adalah ayat ke-186. Sedangkan ayat ke-187 juga menjelaskan tentang puasa. Oleh itu, para Ulama menjelaskan adanya kaitan yang sangat erat antara puasa dengan ibadah berdoa.

Ketika berpuasa, disunnahkan untuk memperbanyak berdoa. Lebih ditekankan lagi ketika berbuka puasa.

“Tiga (kelompok) orang yang tidak ditolak doanya: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizalimi.” (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dishahihkan oleh Ibnul Mulaqqin, Ibnu Hibban, dan Ibnu Khuzaimah, sebahagian Ulama menghasankannya berdasarkan penguatan dari jalur lain)

Kedekatan Allah dengan HambaNya:

“Dan jika hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat…” (Surah al-Baqarah : ayat 186)

Allah sangat dekat dengan hamba-Nya meski Dia berada di puncak ketinggian. Allah sangat dekat dengan hamba-Nya, karena Allah Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Berkuasa, Maha Mengetahui segala perbuatan hambaNya.

Allah dekat, akan selalu menjawab doa atau zikir seorang hamba, meski hamba itu mengucapkan dengan kalimat yang sangat lirih tak terdengar oleh orang lain di sekelilingnya.

“Barangsiapa yang mengucapkan: Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah dan Allah Yang Paling Besar. Tuhannya akan membenarkan ucapan itu dan berfirman: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Aku dan Akulah Yang Paling Besar. Jika hamba itu mengucapkan : Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Allah satu-satunya, Allah akan berfirman: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Aku satu-satunya. Jika hamba itu mengucapkan: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Allah satu-satunya tidak ada sekutu bagiNya, Allah akan berfirman: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Aku tidak ada sekutu bagiKu. Jika hamba itu mengucapkan: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Allah, hanya bagiNyalah kekuasaan dan pujian, Allah berfirman: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Aku, hanya bagiKu-lah kekuasaan dan pujian. Jika hamba itu mengucapkan: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Allah dan tiada daya dan kekuatan kecuali (atas pertolongan) Allah, Allah berfirman: Tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Aku dan tiada daya dan kekuatan kecuali (atas pertolongan) Ku.” (H.R atTirmidzi, Ibnu Majah, dishahihkan al-Albany)


Demikian juga saat seorang hamba membaca al-Fatihah, setiap ayat yang dibaca akan dijawab oleh Allah.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits qudsi:

“Aku membagi As-Sholaah (Al-Fatihah) antara Aku dengan hambaKu menjadi dua bahagian dan bagi hamba-Ku ia mendapatkan yang ia minta. Jika seorang hamba mengucap : Alhamdulillahi Robbil ‘Aalamiin, Allah berfirman : ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku’. Jika seorang hamba mengucapkan: ar-Rohmaanir Rohiim, Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah memuja-Ku. Jika hamba-Ku mengucapkan: Maaliki Yaumid Diin, Allah berfirman: ‘Hamba-Ku telah mengagungkan Aku’, dan kemudian Dia berkata selanjutnya: “Hamba-Ku telah menyerahkan (urusannya) pada-Ku. Jika seorang hamba mengatakan: Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin, Allah menjawab: Ini adalah antara diriKu dan hamba-Ku, hamba-Ku akan mendapatkan yang ia minta. Jika seorang hamba mengatakan: Ihdinasshiroothol Mustaqiim. Shiroothol ladziina an’amta ‘alaihim. Ghoiril maghdluubi ‘alaihim walad dhoolliin; Allah menjawab: Ini adalah untuk hamba-Ku, dan baginya apa yang ia minta.” (H.R Muslim)

Rasakanlah dekatanya Allah ini ketika kita berzikir dan berdoa. Rasakanlah bahawa Allah menjawab seruan kita dalam zikir atau doa itu. Berdoalah dengan penuh ketundukan dan suara yang lirih, tidak dikeraskan.


“Berdoalah kepada Tuhan kamu dengan merendah diri dan (dengan suara) perlahan-lahan. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” (Surah alA’raf : ayat 55)

“Dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Surah al-A’raf : ayat 205)

Ketika dalam perjalanan perang Khaibar, sebahagian Sahabat mengeraskan zikir takbirnya dengan mengucapkan: Allaahu Akbar Allaahu Akbar laa Ilaaha Illallah. Nabi yang mengetahui hal itu bersabda:

“Rendahkanlah suara kamu. Sesungguhnya kamu tidak berdoa kepada yang tuli atau tidak ada, sesungguhnya kamu berdoa kepada Yang Maha Mendengar Maha Dekat, dan Dia bersama kamu.” (H.R alBukhari no 3883 dan Muslim no 4873).

Menguatkan zikir hanyalah pada saat-saat disyariatkan untuk menguatkannya, seperti ketika talbiyah haji, takbir setelah dipastikan masuknya bulan Syawal hingga menjelang solat hari raya, bacaan kuat zikir sebagai bentuk pengajaran, dan sebagainya.

Al-Imam asy-Syafi’e rahimahullah berpendapat bahwa jika Rasul menguatkan bacaan zikir setelah selesai solat, hal itu sekadar untuk mengajarkan kepada para Sahabat tentang bacaan-bacaan zikir yang disyariatkan.

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

“Aku berpendapat bahawasanya Nabi sedikit menguatkan bacaan (zikir selesai sholat) untuk mengajarkan kepada manusia….” (al-Umm (1/127))


Namun, asal ucapan zikir dan doa adalah tidak dikuatkan.

Allah Pasti Menjawab Doa/ Seruan Seorang Hamba:

“Aku akan menjawab seruan orang yang berdoa ketika berdoa kepada-Ku.” (Surah al-Baqarah : ayat 186)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahawa semua doa dari hamba-Nya pasti dijawab oleh Allah. Maka tidak akan pernah ada ruginya orang yang berdoa.

Jawaban Allah terhadap doa seorang hamba boleh dalam bentuk:

i. Allah segerakan terkabulnya doa.

ii. Allah simpan doa itu sebagai perbendaharaan pahala di akhirat.

iii. Allah halangi suatu keburukan atau bahaya menimpa dia, sesuai kadar yang setara dengan permintaan yang dimintanya. AErtinya, dengan adanya doa tersebut, meskipun tidak secara langsung terlihat hasil seperti yang diminta, ia terhindar daripada suatu keburukan dengan sebab doa itu.

Salah satu daripada ketiga hal itu dapat dicapai jika seseorang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan silaturrahmi.


“Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa atau memutuskan silaturrahmi kecuali Allah akan beri salah satu dari tiga hal: Allah boleh saja segerakan terkabulnya doa, atau Allah simpan sebagai perbendaharaan pahala di akhirat, atau Allah palingkan darinya keburukan semisal (yang diminta dalam doa). Para Sahabat berkata: Kalau begitu, kami akan memperbanyak (doa). Rasul bersabda: Allah lebih banyak lagi." (H.R atTirmidzi, Ahmad, dishahihkan oleh al-Hakim dan dinyatakan bahwa sanad-sanadnya jayyid(baik) oleh al-Bushiry).

sumber :http://www.salafy.or.id/

No comments:

SKUAD My J SG SIPUT Headline Animator

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...